Siapa yang menyangka, bahwa ternyata ada seorang murid yang
hanya berdiam diri di kelas, namun sangat berprestasi. Disaat semua siswa makan
dengan lahapnya di kantin sekolah, ia lagi-lagi sendiri dan hanya memandang
semuanya dengan tatapan kosong. Pribadinya yang dingin dan tidak mudah didekati
membuat aku dan teman-teman seringkali bertanya dalam hati, “apakah dia bisu ?
apakah dia menderita sesuatu ? dan memangnya dia tidak lapar ?”. Pernah suatu ketika, aku
mendapati dia menaiki sebuah mobil mewah, dan lalu aku bertanya pada diriku,
“wah, apakah dia sekaya itu ?”
Dan
keesokan harinya, saat aku tidak sengaja menabraknya, ia pun terjatuh. “Oh,
maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja”. Namun sepertinya dia tidak peduli.
Dia pergi, dan lalu aku pun kembali memanggilnya, “Hei, lututmu luka”. Dia
tetap saja berjalan dan justru semakin kencang seperti akan lari.
Penasaran, aku pun mengejarnya.
Ini adalah pertama kali bagi kami
sebagai teman satu kelas mulai berbincang. Dia berhenti di koridor sekolah,
tempat yang jarang sekali didatangi siswa lain karena koridor ini sedikit
gelap. “Hei, kamu baik-baik saja ? Aku hanya ingin melihat lukamu.. dan sekali
lagi, aku minta maaf karena telah melukaimu”. Dan akhirnya dia pun menjawab,
“sudah tak apa-apa, aku baik-baik saja”. Senada dengan ucapannya, aku pun
menarik nafas dan tersenyum sembari memandangnya. “Syukurlah, jika ada sesuatu
denganmu, mungkin aku akan benar-benar merasa bersalah”.
Keesokan harinya, aku mulai
membawa bekal dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Aku berharap, bekalku bisa
dinikmati berdua dengannya, siswa yang terjatuh karena ulahku. Namun nihil, aku
tak menemukannya sejak pagi.
Sekarang saatnya makan siang dan aku masih saja berusaha
mencarinya. Sampai-sampai aku lupa, kalau aku pun perlu makan. Lalu seorang
guru menghampiri dan bertanya tentang apa yang membuatku berputar
kesana-kemari. Tak lama beliau pun menjelaskan, bahwa Key, siswa yang aku cari sudah tak
lagi menjadi siswa di sekolah ini. Sampai aku menemukan jawabannya kenapa ia memutuskan untuk pergi, aku
bersumpah bahwa aku akan selalu membencinya. Begitulah ucapku saat itu.
Waktu berlalu dan ini sudah tahun kelima sejak Key tidak lagi bersamaku. Walaupun
singkat, aku merasa bahwa Key selalu ada bersamaku sejak saat itu.
Hingga suatu hari……
Seorang pria dengan tegapnya
berdiri di hadapanku. “Kau…siapa?” tanyaku dengan gugup. Dia tersenyum, persis
seperti aku tersenyum padanya waktu itu. Wajahnya begitu tenang setelah
melihatku. “Kau masih seperti dulu, Louis. Wajahmu masih manis, begitupun
senyumanmu. Andai saja, lututku tidak berdarah dan aku tidak berlari ke
koridor, mungkin aku tidak akan pernah melihat senyuman itu. Bahkan untuk
mengenalmu pun, tak pernah sekalipun terpikirkan olehku. Aku Key, siswa yang tak pandai bergaul
namun cukup berprestasi, kau merindukanku? ( Key kembali tersenyum ).
Key terdiam
menatapku.
Key lalu melanjutkan perkataannya “terima kasih, karena jika tanpa senyuman itu, aku mungkin sudah
tidak lagi berada di tempat ini. Ayahku selalu bilang, bahwa kelak aku harus
seperti apa yang dia inginkan. Jangan mendekati siapapun dan belajarlah dengan
baik. Dan mulai saat itu, aku merasa bahwa hidupku sudah tidak berarti lagi.
Bahkan apa yang aku inginkan sepertinya tidak akan pernah menjadi nyata. Dan
nyaris saja, saat kamu melukaiku, aku berniat untuk pergi ke atap gedung
sekolah dan mengakhiri hidupku disana. Tapi saat kamu bertanya apakah aku
baik-baik saja dan kamu menyesal atas apa yang terjadi, barulah aku mengerti,
bahwa masih ada seseorang yang sangat mengkhawatirkanku. Dan aku pergi adalah
untuk menemukan apa yang aku inginkan”.
~Sahabat, tak perlu melakukan hal yang besar untuk bisa menyenangkan
orang lain. Karena hal terkecil saja bisa merubah segalanya. Untuk apa bersusah
payah mendapatkan sesuatu yang besar, ketika senyuman saja sudah cukup
menghangatkan. Maka tersenyumlah, karena senyuman bisa jadi penghapus luka.(dikutip dari berbagai sumber)~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar